TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR: UPAYA UNTUK MENGELOLA PERHATIAN DAN KEGIATAN SISWA

  • Arju Muti’ah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember
Keywords: Tindak Tutur Direktif Guru, Kelas Awal Sekolah Dasar, Fungsi Tindak Tutur, Realisasi Tindak Tutur

Abstract

Kegiatan pembelajaran di kelas tidak selalu berjalan lancar seperti yang diharapkan. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru sering menghadapi situasi yang kurang mendukung, seperti perhatian siswa tidak terfokus pada pembelajaran. Berdasarkan pengamatan terhadap proses belajar-mengajar di kelas 1 sekolah dasar, diketahui acapkali siswa tidak memperhatikan apa yang disampaikan guru. Siswa sering melakukan aktivitas lain yang tidak terkait dengan pembelajaran. Sebagai respons atas situasi tersebut, guru menggunakan berbagai tindak tutur untuk menjaga agar kelas berjalan dengan baik. Fenomena ini menarik untuk dikaji, terutama untuk melihat bagaimana guru menggunakan beragam tindak tutur direktif untuk mengatasi permasalahan di kelas. Melalui pendekatan kewacanaan dan pendekatan pragmatik, dilakukan kajian berbasis observasi dan rekaman video. Data dalam penelitian ini adalah segmen tutur guru yang diindikasikan sebagai tindak tutur direktif beserta konteksnya . Data tersebut dikaji berdasarkan teori tindak tutur Searle dan teori wacana pedagogik Bernstein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan tindak tutur direktif dengan berbagai maksud, yaitu: bertanya, mengajak, memberikan aba-aba, melarang, meminta, memerintah, dan mengarahkan. Tindak tutur direktif dengan berbagai maksud tersebut, digunakan oleh guru untuk menciptakan ketertiban, mengembangkan kepedulian, membangun konteks, memusatkan perhatian, dan mentransmisikan pengetahuan / keterampilan.

Published
2020-05-19
How to Cite
Arju Muti’ah. (2020). TINDAK TUTUR DIREKTIF GURU DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR: UPAYA UNTUK MENGELOLA PERHATIAN DAN KEGIATAN SISWA. Seminar Internasional Riksa Bahasa. Retrieved from http://proceedings.upi.edu/index.php/riksabahasa/article/view/877