MAKROPROPOSISI WACANA STAND-UP COMEDY INDONESIA “PAHLAWAN PERLU TANDA JASA” KARYA ABDURRAHIM ARSYAD
Keywords:
Makroproposisi, Stand-up Comedy Indonesia, WacanaAbstract
Stand-up comedy Indonesia (SUCI) menjadi genre humor yang sedang naik daun saat ini. Para komika nasional meramaikan industri televisi, dari yang awalnya mereka penampil di atas panggung. SUCI memiliki struktur khas berupa set-up dan punchline. Struktur ini memang sudah lazim dalam humor, namun SUCI mengemas hal ini lebih tertata. Kekhasan SUCI terletak pada persona komika dan sikap yang diberikan atas keresahan yang sedang disampaikan di atas panggung. Dapat dikatakan materi SUCI berisi keresahan komika yang disampaikan untuk mendapatkan support dari penonton. Oleh karena itu, komika membutuhkan dukungan penonton atas persoalan sosial yang dibahas. Abdurrahim Arsyad seorang komika nasional yang memiliki persona guru menampilkan pertunjukan tunggal berjudul Pahlawan Perlu Tanda Jasa (PPTJ). Tujuan artikel ini adalah untuk menjelaskan makrostruktur wacana SUCI PPTJ tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis wacana kritis (AWK) van Dijk yang meyakini adanya daya kuasa dalam suatu bahasa untuk mendapatkan simpati publik. Data penelitian ini adalah rekaman pertunjukan PPTJ. Penulis menemukan makrostruktur wacana SUCI PPTJ terdiri atas pembuka, isi, dan penutup. Pembuka berupa ucapan terima kasih atas kehadiran penonton, premis cerita kehidupan sehari-hari komika. Pada bagian isi komika baru membawakan bit-bit mengenai pendidikan. Bagian penutup komika mengucapkan terima kasih kepada sponsor. Makrostruktur ini menunjukkan komika tidak langsung membawakan materi sesuai tema, tetapi diawali dengan premis-premis lain sebelum inti. Pada bit inti juga komika menyajikan set-up yang meyakinkan penonton serta punchline yang tidak terduga.