PANTUN SEBAGAI DIPLOMASI BUDAYA DAN DIPLOMASI PUBLIK DI ASIA TENGGARA
Keywords:
Asia Tenggara, Diplomasi Budaya, Diplomasi Publik, Komunikasi Lintas Budaya, Pantun, Soft PowerAbstract
Pantun sebagai bentuk puisi tradisional Melayu memiliki peran strategis dalam memperkuat diplomasi budaya dan diplomasi publik di kawasan Asia Tenggara. Keunikan struktur pantun, yang sarat makna dan nilai-nilai lokal, menjadikannya media komunikasi lintas budaya yang efektif dan inklusif. Artikel ini mengkaji pantun yang digunakan sebagai instrumen diplomasi budaya oleh negara-negara Asia Tenggara, khususnya Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, dalam membangun citra bangsa, mempererat hubungan antarnegara, serta mempromosikan warisan budaya bersama. Pendekatan kualitatif digunakan dengan analisis literatur dan praktik diplomatik terkait pantun dalam forum internasional dan regional. Hasil kajian menunjukkan bahwa pantun tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga sebagai alat soft power yang mampu menyampaikan pesan politik, memperkuat identitas kolektif, dan menjembatani perbedaan. Dengan demikian, pelestarian dan pengembangan pantun dalam ranah diplomasi merupakan langkah strategis untuk membangun solidaritas budaya dan memperluas pengaruh diplomatik negara-negara Asia Tenggara di kancah global.