DARI TRADISI LISAN KE LITERASI DINI: EKSPLORASI DIDONG GAYO DALAM REVITALISASI BAHASA DAERAH UNTUK ANAK USIA DINI
Keywords:
Bahasa Gayo, Didong Gayo, Literasi Anak Usia Dini, Revitalisasi Bahasa Daerah, Tradisi LisanAbstract
Bahasa daerah merupakan identitas budaya yang rentan mengalami pergeseran pada generasi muda, termasuk bahasa Gayo. Fenomena ini tampak pada anak usia dini di Aceh Tengah maupun komunitas urban Jakarta yang semakin jarang menggunakan bahasa Gayo dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tradisi lisan Didong memiliki potensi besar sebagai media literasi awal karena mengandung musikalitas, repetisi, dan narasi yang sesuai dengan karakteristik belajar anak. Namun, adaptasi Didong untuk anak usia dini masih terbatas dan akses terhadap materi ramah anak belum tersedia secara memadai. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi potensi Didong dalam pendidikan anak usia dini, khususnya sebagai media literasi bahasa Gayo, dengan menggali perspektif seniman, maestro, dan ketua sanggar seni Gayo yang aktif di Jakarta. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan teknik wawancara semi terstruktur dan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Didong relevan untuk literasi emergen karena ritme dan syairnya memudahkan anak mengenal kosa kata dasar. Tantangan utama adalah rendahnya penguasaan bahasa Gayo pada anak-anak dan terbatasnya konten Didong ramah anak. Para narasumber menekankan perlunya dukungan pemerintah melalui kerja sama lintas sektor, pelatihan didong kepada guru PAUD agar guru dapat memahami didong dan menguasai Bahasa Gayo sehingga didong dapat diterapkan dalam proses pembelajaran AUD. Selain perlunya adaptasi syair menjadi lebih sederhana, integrasi dengan puisi atau cerita anak, pemanfaatan media digital sebagai strategi revitalisasi. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literasi berbasis budaya di pendidikan anak usia dini sekaligus mendukung revitalisasi bahasa Gayo dalam konteks masyarakat kontemporer.