MENJELAJAHI TIKTOK SEBAGAI GERBANG BUDAYA: ANALISIS TERHADAP SENSITIVITAS ANTARBUDAYA PADA PEMELAJAR BIPA DALAM MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL INDONESIA
Keywords:
BIPA, Kearifan Lokal, Persepsi, Sensitivitas Antarbudaya, TiktokAbstract
Penggunaan teknologi dalam pengajaran terus berevolusi seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Fenomena ini mengubah cara informasi disampaikan menjadi lebih mudah, murah, dan cepat. Satu di antara perubahan signifikan adalah munculnya TikTok, platform berbagi video yang menarik, dan populer. Dalam konteks ini, penelitian berfokus pada peran TikTok sebagai Gerbang Budaya dan bagaimana pemelajar BIPA berinteraksi dengan kearifan lokal Indonesia melalui platform tersebut. Dalam era globalisasi, diplomasi budaya BIPA menjadi sangat penting untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman terhadap kearifan lokal Indonesia. Penelitian ini menggunakan Developmental Model of Intercultural Sensitivity (DMIS) oleh Bennett (1986) sebagai landasan konseptual untuk menganalisis bagaimana pemelajar BIPA menanggapi kearifan lokal. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan tujuan mengeksplorasi tanggapan dan persepsi pemelajar BIPA aras madya terhadap kearifan lokal yang disajikan melalui TikTok. Subjek penelitian adalah pemelajar BIPA 4 di Balai Bahasa UPI yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan dokumentasi, lalu dianalisis menggunakan metode interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan pemelajar BIPA memiliki persepsi yang sangat positif terhadap budaya Indonesia. Berdasarkan kerangka DMIS, kedua subjek memasuki tahapan ethnorelative stages, menandakan tingkat sensitivitas antarbudaya yang tinggi. Subjek tidak hanya menerima perbedaan budaya (Acceptance), tetapi juga menunjukkan kemampuan beradaptasi (Adaptation) dan integrasi (Integration), yang mencerminkan kemampuan mereka untuk menghargai dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya baru ke dalam pandangan pribadi mereka. Implikasi dari temuan ini adalah pemahaman mendalam terhadap persepsi pemelajar dapat membantu penyusunan pengajaran bahasa dan budaya Indonesia yang lebih efektif bagi penutur asing.