Belajar di Era Algoritma: Rekonstruksi Makna Pengetahuan pada Generasi Digital Native
Keywords:
Algoritma, Generasi digital native, Modal budaya digital, Otoritas epistemik, Sosiologi pengetahuanAbstract
Penelitian ini berupaya memahami bagaimana algoritma media sosial berperan dalam membentuk
ulang cara siswa generasi digital native memaknai pengetahuan dan menjalankan praktik belajar.
Kajian ini berangkat dari fenomena pergeseran otoritas epistemik yang sebelumnya berpusat pada
institusi pendidikan formal menuju ruang digital, suatu persoalan yang masih relatif terbatas dikaji
dalam khazanah ilmu pendidikan di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
dengan desain fenomenologis untuk menelusuri pengalaman subjektif siswa dalam memahami
proses "mengetahui" di tengah kuatnya pengaruh konten yang diseleksi melalui algoritma. Delapan
siswa SMA dipilih sebagai partisipan secara purposif dengan mempertimbangkan variasi karakter
serta tingkat intensitas penggunaan media sosial yang bekerja melalui sistem rekomendasi
algoritmik. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan selanjutnya dianalisis menggunakan
teknik analisis tematik. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa siswa tidak merespons
pergeseran epistemik secara seragam, melainkan menunjukkan suatu spektrum respons yang
berkaitan dengan perbedaan modal budaya digital. Sebagian siswa memperlihatkan tingkat
kerentanan yang tinggi terhadap ilusi familiaritas-sebagai-pemahaman dan kecenderungan
bergantung pada otoritas algoritmik, sedangkan siswa yang memiliki modal budaya akademik lebih
kuat menunjukkan bentuk resistensi kritis dan skeptisisme metodologis. Penelitian ini juga
mengidentifikasi adanya pembelahan domain kepercayaan, yaitu kecenderungan sebagian siswa
untuk tetap menempatkan guru sebagai sumber otoritatif dalam kebutuhan akademik-formal,
sambil secara bersamaan memercayai media sosial dalam memenuhi kebutuhan sosial-praktis,
tanpa menjadikan salah satu pihak sebagai satu-satunya otoritas. Secara teoretis, hasil penelitian
memberikan kontribusi melalui perluasan kerangka dramaturgi Goffman, penajaman konseptual
mengenai modal budaya digital, serta pengajuan kembali persoalan generalisasi paradoks
pengetahuan algoritmik (algorithmic knowledge paradox) yang berkembang dalam literatur
sebelumnya. Dalam tataran praktis, temuan tersebut menekankan pentingnya pengembangan
pedagogi literasi digital yang terdiferensiasi berdasarkan karakteristik modal budaya siswa, disertai
transformasi peran guru sebagai fasilitator dalam proses validasi informasi. Penelitian berikutnya
disarankan melibatkan cakupan sampel dan konteks sosial-ekonomi yang lebih luas untuk menguji
keberlanjutan serta konsistensi pola temuan ini.