Analisis Penjaminan Mutu Pendidikan Berbasis Nilai Kearifan Lokal Pancawaluya dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan

Authors

  • Fakhrul Kurniawan Universitas Terbuka UPBJJ Bandung Author
  • Mochammad Kafi Al Habsi Universitas Terbuka UPBJJ Bandung Author

Keywords:

Budaya mutu, Kearifan lokal, Nilai Pancawaluya, Penjaminan mutu pendidikan, Sosiologi pendidikan

Abstract

Penjaminan mutu pendidikan di Indonesia telah memiliki mekanisme sistematis melalui siklus Penetapan, 
Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan (PPEPP) namun pelaksanaannya masih cenderung 
berorientasi teknis administratif dan belum banyak mempertimbangkan dimensi sosial budaya sekolah, 
sementara kearifan lokal Pancawaluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer) di Jawa Barat masih dikaji 
terbatas pada isu pendidikan karakter dan belum dihubungkan secara khusus dengan sistem penjaminan 
mutu. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan penjaminan mutu pendidikan dan kearifan lokal 
Pancawaluya dalam perspektif sosiologi pendidikan, mengidentifikasi bentuk integrasi kelima nilai 
Pancawaluya ke dalam proses penjaminan mutu, serta merumuskan pemahaman mutu pendidikan yang 
mempertimbangkan dimensi sosial dan budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif 
dengan desain studi kepustakaan, menelaah literatur ilmiah nasional dan internasional serta dokumen 
regulasi pendidikan yang dianalisis melalui teknik analisis isi dan pemetaan tematik. Hasil penelitian 
menunjukkan bahwa penjaminan mutu pendidikan yang dilihat dari perspektif sosiologi pendidikan 
merupakan proses negosiasi makna dan konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi, kepemimpinan, 
dan kesepakatan nilai bersama warga sekolah, bukan semata-mata mekanisme administrative. Kelima nilai 
Pancawaluya dapat dipetakan secara koheren ke dalam siklus PPEPP yaitu cageur dan bageur pada tahap 
penetapan dan pelaksanaan, bener pada tahap evaluasi, pinter pada tahap pengendalian, dan singer pada 
tahap peningkatan berkelanjutan sehingga berfungsi sebagai basis sosial kultural yang memberi makna pada 
setiap tahapan mutu; serta pembentukan budaya mutu yang kontekstual masih menghadapi tantangan 
berupa persepsi guru yang memandang kebijakan kearifan lokal sebagai beban administratif tambahan. Hal 
ini dapat diatasi melalui kepemimpinan yang kuat dan pendekatan whole-school approach. Berdasarkan 
temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan Model Penjaminan Mutu Berbasis Kearifan Lokal (PMB-KL) yang 
menempatkan nilai lokal sebagai lapisan pemaknaan sosial kultural pada setiap tahapan PPEPP. Implikasi dari 
penelitian ini, bahwa satuan pendidikan perlu menerjemahkan nilai lokal ke dalam indikator dan praktik 
konkret pada setiap tahap penjaminan mutu didukung kepemimpinan sekolah yang menjembatani kebijakan 
formal dengan pemahaman informal warga sekolah sekaligus membuka ruang bagi penelitian lanjutan 
berbasis studi lapangan untuk menguji model ini secara empiris. 

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2026-11-04